"Retorika yang Baik dan Benar"
MAKALAH
RETORIKA
YANG BAIK DAN BENAR
Disusun
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Diampu
oleh :
Dr.Susilo
Mansurudin, M.Pd
Disusun
oleh
JessicaYunanda
Bahtiar( 19320104)
Ummil
Khairah ( 19320060)
Liyana
Nalabaya ( 19320087)
Shinta
Faizatun Nur ( 19320106)
Adam
Chesar Gunawan ( 19320155)
Michael
Fadlan Abdillah ( 19320028)
Mohammed
Sonah Sharif ( 19320220)
UNIVERSITASI
SLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
FAKULTAS
HUMANI ORA
JURUSAN
SASTRA INGGRIS
2019/
2020
KATAPENGANTAR
Alhamdulillah,
puji syukur penulis ucapakan atas kehadirat Allah swt. atas segala ridho dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah. Shalawat serta salam penulis
ucapkan kepada Nabi Muhammad saw. yang telah membawa perubahan yang tak
terhingga dalam kehidupan ini.
Tak
lupa pula penulis ucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada Ibu Lusi Komala
Sari sebagai dosen pembimbing pada mata kuliah Bahasa Indonesia ini yang telah
memberikan bimbingan dan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
ini.
Makalah
ini berjudul “RETORIKA YANG BAIK DAN BENAR”. Dalam makalah penulis akan
membahas mengenai pengertian retorika, Manfaat dan tujuan mempelajari retorika,
Pentingnya seni bicara (Retorika), mengapa kita perli belajar retorika.
Penulis
menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Masih
banyak terdapat kekurangan dan kesalahan. Namun demikian, penulis berharap
tulisan ini dapat memberi manfaat untuk pembaca, terutama dalam hal menambah
pengetahun tentang Kalimat Efektif. Kritik dan saran yang bersifat membangun
diharapkan untuk penyempurnaan penyusunan makalah di masa yang akan datang.
BAB 1
PENDAHULUAN
a.
Latar
Belakang
Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk
menyelesaikan tugas mata kuliah
Bahasa
Indonesia.Tugas inidisusun dengan mempelajari materi tentang“Teknik
Beretorika”.Dimana
materi ini akan menjadi pembelajar kepada kita dengan
Menambah
wawasan bagaimana berbicara dengan baik dan jelas di depan umum
Yang
disebut retorika. Berbicara di depan umum bukanlah suatu hal yang mudah,
Tetapimemiliki
cara cara tersendiri untuk dapat menyampaikan topik yang kita
Bicarakansampai pada pendengar dengan jelas.Retorika juga
disebut sebagai
pidato.Terdapat
teknik yang baik untuk menyampaikan pidato.Dalam makalah ini akan dibahas
bagaimana berpidato atau beretorika yang baik dan benar.
Dalam
kehidupan sehari-hari kita selalu menggunakan bahasa sebagai alat berkomunikasi
dengan sesama kita baik melalui bahasa langsung (berbicara) maupun tidak
langsung (bahas tulis). Ada berbagai macam maksud yang hendak kita sampaikan
seperti meyakinkan, mempengaruhi, mengajak, memerintah dan lain-lain.
Keberhasilan kita dalam berkomunikasi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya adalah logos (meyakinkan dengan logika-logika), patos (kejiwaan
atau aspek pisikologi), etos (kepercayaan atau kredibilitas).
Dalam
kajian ilmu pengetahuan seni berbicara atau komunikasi ini sering disebut
dengan retorika. Orang yang menguasai ilmu retorika atau memiliki retorika yang
bagus dalam berkomunikasi maka akan lebih mudah menyampaikan maksud dan tujuan
dari apa yang dibicarakannya serta terasa enak didengarkannya dan tidak membuat
bosan pendengarnya.
Retorika,
bukan hanya ilmu pidato, tetapi meliputi pengetahuan sastra, gramatika, dan
logika.Karena dengan rasio tidak cukup untuk meyakinkan orang, untuk meyakinkan
orang lain memerlukan teknik-teknik memanipulasi emosi dan menggunakan
prasangka untuk menyentuh hati pendengar.
b.
Rumusan masalah
Rumusan masalah yang didapat dalam
karya tulis “TeknikBeretorika” ini yaitu,
Sebagai berikut:
1. Apa itu retorika?
2. Apa pengertian teknik beretorika?
3. Bagaimana teknik beretorika yang
baik dan benar?
4. Apa saja tahapan beretorika?
c.
Tujuan makalah
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud
retorika
2. Untuk mengetahui teknik beretorika
dengan menyeluruh
3. Untuk mengetahui cara beretorika
yang baik dan benar
4. Untuk menambah wawasan tentang
retorika
BAB II
PEMBAHASAN
a.
Pengertian Retorika
Menurut para ahli, istilah retorika
secara etimologi berasal dari Bahasa Latin (Yunani Kuno) “Rhetorica” yang
berarti “seni berbicara”. Dalam bahasa Inggris kata retorika menjadi “Rhetoric”
yang berarti “kepandaian berpidato atau berbicara”. Secara terminologi.
retorika dikenal dengan istilah “The art of speaking” yang artinya “seni di
dalam berbicara atau bercakap”. Sehingga secara sederhana dapat dikemukakan
bahwa, pengertian retorika adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari atau
mempersoalkan tentang bagaimana cara berbicara yang mempunyai daya tarik dan
pesona, sehingga orang yang mendengarkannya dapat mengerti dan tergugah
perasaannya.Istilah retorika muncul bermula di Yunani sekitar abad ke-5 sebelum
masehi. Pada saat itu Yunani sebagai pusat kebudayaan barat dan para filsufnya
saling berlomba untuk mencari apa yang mereka anggap sebagai kebenaran.
Pengaruh kebudayaan Yunani ini menyebar sampai ke dunia
timur seperti Mesir, India, Persia, bahkan Indonesia. Retorika mulai berkembang
pada zaman Socrates, Plato, dan Aristoteles. Selanjutnya kemudian retorika
berkembang menjadi ilmu pengetahuan, dan dianggap sebagai guru pertama dalam
ilmu retorika adalah Georgias (480-370 SM).
Berikut ini beberapa pengertian retorika yang dikemukakan
oleh beberapa ahli di bidang retorika.
1. Pengertian Retorika Menurut Richard
E. Young cs: Retorika adalah ilmu yang mengajarkan bagaimanakita menggarap
masalah wicara-tutur kata secara heiristik, epistomologi untuk epistomologi
untuk membina saling pengertian dan kerjasama.
2. Pengertian Retorika Menurut
Socrates: Retorika adalah ilmu yang mempersoalkan
tentang bagaimana mencari kebenaran dengan dialog sebagai
tekniknya. Karena dialog kebenaran dapat timbul dengan sendirinya.
3. Pengertian Retorika Menurut Plato:
Retorika adalah kemampuan di dalam
mengaplikasikan bahasa lisanyang sempurna dan merupakan
jalan bagi seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang luas dansempurna.
Dari beberapa pengertian retorika di atas, apapun defenisi
dan siapapun yang mengemukakannya semua mengacu dan memberi penekanan kepada
kemampuan menggunakan bahasa lisan (berbicara) yang baik dengan memberikan sentuhan
gaya (seni) di dalam penyampaiannya dengan tujuan untuk mengikat atau menggugah
hati pendengarnya dan mengerti dan memahami pesan yang disampaikannya.[1]
b.
Pengertian Teknik Beretorika
Teknik beretorika adalah penerapan
ilmu atau teknologi atau cara menyampaikan, mengutarakan atau berpidato di
depan umum dengan baik dan benar.
c.
Tahapan beretorika
Seringkali kita mendengar seseorang
yang berpidato panjang tanpa memperoleh apa-apa daripadanya selain kelelahan
dan kebosanan. Hal ini biasanya disebabkan pembicara mempunyai bahan yang
banyak tetapi tidak mampu mengorganisasikannya. Pidato yang tidak teratur,
bukan hanya menjengkelkan pendengarnya, tetapi juga akan membingungkan
pembicaranya itu sendiri. Ibarat pakaian yang harganya sangat mahal, pasti akan
membuat orang yang melihatnya tertawa sisnis jika dipakai secara acak-acakan.
Herbert Spencer pernah berkata, “Kalau pengetahuan orang itu tidak teratur,
maka makin banyak pengetahuan yang dimilikinya, makin besar pula kekacauan
pikirannya.”Pada pidato, keteraturan merangkai kata-kata akan sangat menentukan
daya tarik pidato itu sendiri. Bila tentara bermain-main dengan peluru, maka
orator (jago pidato) bermain dengan kata-kata. Bagaimana kata-kata itu harus
kita mainkan dalam pidato? Kita akan membahasnya secara teknis.
d.
cara beretorika yang baik dan benar
Sebelum berpidato, berdakwah, atau
berceramah, kita harus mengetahui lebih dulu apa yang akan kita sampaikan dan
tingkah laku apa yang diharapkan dari khalayak kita; bagaimana kita akan
mengembangkan topik bahasan. Dengan demikian, dalam
tahap persiapan pidato, ada dua hal yang harus kita lakukan
yaitu, Memilih Topik dan Tujuan Pidato dan
Mengembangkan Topik Bahasan.
A. Memilih Topik dan Tujuan Pidato.
Seringkali kita
menjadi bingung ketika harus mencari topik yang baik, seakan-akan dunia ini
kekeringan bahan pembicaraan, seakan-akan kita tidak memiliki keahlian apa-apa.
Jangan bingung, karena sebenarnya setiap orang memiliki keahlian masing-masing,
hanya kita seringkali tidak menyadarinya. Mang Endang mungkin tidak dapat
berbicara tentang hukum waris dengan baik, tetapi Mang Endang dapat dengan
lancar berbicara tentang cara memperbaiki mobil yang rusak. Pak Haji Holis
mungkin akan sangat lancar berbicara tentang hukum waris, tetapi hampir pasti
beliau akan gagap jika diminta menjelaskan bagaimana caranya memperbaiki mobil
yang mogok. Inilah yang disebut keahlian spesifik. Setiap orang punya potensi
untuk ahli di bidangnya masing-masing. Hal yang akan menjadi masalah bagi
seseorang ketika harus berpidato adalah jika orang itu memaksakan diri
berbicara tentang persoalan yang tidak dikuasainya, hal yang tidak dipahaminya
(Numawi kitu, ulah maksakeun anjeun nyarios anu urang nyalira henteu ngartos
kana naon anu dicarioskeun!).
B. Kriteria Topik yang Baik
Untuk menentukan topik yang baik, kita dapat menggunakan
ukuran-ukuran sebagai berikut:
1.
Topik
harus sesuai dengan latar belakang pengetahuan Anda.Topik yang paling baik
adalah topik yang memberikan kemungkinan Anda lebih tahu daripada khalayak,
Anda lebih ahli dibandingkan dengan kebanyakan pendengar.Jika Anda merupakan
orang yang paling tahu tentang tata cara sholat yang baik dibandingkan dengan
orang lain, maka berpidatolah dengan tema atau topik itu; sebaliknya jika Anda
tidak begitu paham tentang tata cara sholat yang baik, jangan pernah Anda
memaksakan diri untuk berbicara tentang masalah itu.
2.
Topik
harus menarik minat Anda.Topik yang enak dibicarakan tentu saja adalah topik
yang paling Anda senangi atau topik yang paling menyentuh emosi Anda. Anda akan
dapat berbicara lancar tentang kaitan berpuasa dengan ketentraman hati, sebab
Anda pernah merasa tidak tenang ketika pernah tidak berpuasa secara sengaja di
bulan ramadhan.
3.
Topik
harus menarik minat pendengar. Dalam berdakwah atau berpidato, kita berbicara
untuk orang lain, bukan untuk diri kita sendiri. Jika tidak ingin ditinggalkan
pendengar atau diacuhkan oleh hadirin, Anda harus berbicara tentang sesuatu
yang diminati mereka. Walaupun hal-hal yang menarik perhatian itu sangat
tergantung pada situasi dan latar belakang khalayak/hadirin, namun hal-hal yang
bersifat baru dan indah, hal-hal yang menyentuh rasa kemanusiaan, petualangan,
konflik, ketegangan, ketidakpastian, hal yang berkaitan dengan keluarga, humor,
rahasia, atau hal-hal yang memiliki manfaat nyata bagi hadirin adalah
topik-topik yang akan menarik perhatian.
4.
Topik
harus sesuai dengan pengetahuan pendengar. Betapapun baiknya topik, jika tidak
dapat dicerna oleh khalayak, topik itu bukan saja tidak menarik tetapi bahkan
akan membingungkan mereka. Oleh karena itu, sebelum Anda menentukan topik
dakwah, ketahuilah terlebih dahulu bagaimana rata-rata tingkat pengetahuan
pendengar yang menjadi khalayak sasaran pidato Anda.Gunakanlah bahasa, gaya
bahasa, dan istilah-istilah yang dimengerti oleh hadirin, bukan istilah-istilah
yang hanya dipahami oleh Anda (meskipun istilah itu keren sekali).
5.
Topik
harus jelas ruang lingkup dan pembatasannya. Topik yang baik tidak boleh
terlalu luas, sehingga setiap bagian hanya memperoleh ulasan sekilas saja, atau
“ngawur”. Misalnya, Anda memilih topik Agama, tetapi kita tahu agama itu luas
sekali. Agama bisa menyangkut moralitas, sistem kepercayaan, cara beribadat,
dan lain-lain. Agar topik kita jelas, ambilah misalnya tentang cara beribadat,
lebih jelas lagi ambilah topik tentang sholat yang khusu’, dan seterusnya.
6.
Topik
harus sesuai dengan waktu dan situasi. Maksudnya, kita harus memilih topik
pidato atau topik dakwah yang sesuai dengan waktu yang tersedia dan situasi
yang terjadi. Jika Anda diberikan waktu untuk berbicara selama 10 menit,
janganlah Anda memilih topik yang terlalu luas yang tidak mungkin dijelaskan
dalam waktu 10 menit. Jika Anda harus berbicara di hadapan para santri yang
rata-rata usianya belum akil baligh, janganlah Anda memilih topik dakwah
tentang tata cara hubungan suami-istri, bicaralah tentang kebersihan sekolah.
7.
Topik
harus dapat ditunjang dengan bahan yang lain. Jika Anda memilih topik tentang
Hadits Shahih dan Dhoif, lengkapi bahan pembicaraan Anda dengan sumber-sumber
rujukan (bisa berupa: kitab, buku, atau perkataan ulama) yang sesuai.[2]
BAB
III
PENUTUP
a.
Kesimpulan
1. Secara sederhana dapat dikemukakan
bahwa, pengertian retorika adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari atau
mempersoalkan tentang bagaimana cara berbicara yang mempunyai daya tarik dan
pesona, sehingga orang yang mendengarkannya dapat mengerti dan tergugah
perasaannya. Istilah retorika muncul bermula di Yunani sekitar abad ke-5
sebelum masehi.
2. Teknik beretorika adalah penerapan ilmu atau
teknologi atau cara menyampaikan,
mengutarakan
atau berpidato di depan umum dengan baik dan benar.
3. Sebelum berpidato, berdakwah, atau
berceramah, kita harus mengetahui lebih dulu apa yang akan kita sampaikan dan
tingkah laku apa yang diharapkan dari khalayak
kita; bagaimana kita akan mengembangkan topik bahasan.
Dengan demikian, dalam tahap persiapan pidato, ada dua hal yang harus kita
lakukan yaitu, memilih topik dan tujuan dan mengembangkan topik bahasan
4. Pada pidato, keteraturan merangkai
kata-kata akan sangat menentukan daya tarik
Pidato itu sendiri. Bila tentara bermain-main dengan peluru,
maka orator (jago pidato) bermain dengan kata-kata.
DAFTAR PUSTAKA
Hendrikus,Deiwwor : 1991.Retorika.Yogyakarta.PT.Kanisius
Publisher.
Budiarjo,Miriam : 2008.Dasar-Dasar
Ilmu Politik.Jakarta.PT. Gramedia Pustaka Utama.
[1]Deiwwor
Hendrikus,Retorika(Yogyakarta : PT.Kanisius Publisher,2008)
[2] Miriam Budiarjo,Dasar-Dasar Ilmu
Politik (Jakarta,PT.Gramedia Pustaka Media,1991)

Komentar
Posting Komentar